Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Berhasil Tingkatkan Massa Tubuh Anak dan Remaja
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai telah berhasil meningkatkan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada anak-anak dan remaja di sejumlah daerah penerima MBG.
Dewan Pakar Bidang Gizi dari Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha, dalam keterangan resminya, Rabu (16/7/2025), mengatakan bahwa hasil pemantauan selama 15 minggu pelaksanaan program di Kota Bogor menunjukkan adanya peningkatan rata-rata IMT menurut umur.
Hal serupa juga terjadi di Aceh, sambungnya, di mana status gizi siswa sekolah dasar penerima Program MBG menunjukkan perbaikan ke arah yang lebih baik.
Untuk mengetahui status gizi seseorang dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan biasanya memakai IMT.
IMT dapat digunakan untuk memperkirakan apakah seseorang memiliki berat badan kurang, normal, berlebih, atau obesitas.
Program MBG merupakan inisiatif pemerintah untuk mengatasi berbagai masalah gizi, terutama stunting, pada anak-anak dan ibu hamil/menyusui.
Melalui Program MBG, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui penyediaan makanan bergizi secara langsung, baik di sekolah maupun bagi kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil.
"Masalah gizi tidak hanya menjadi tantangan nasional, tetapi juga isu global," katanya.
6 Target Global Tanggulangi Masalah Gizi
Organisasi-organisasi internasional seperti WHO dan UNICEF telah menetapkan enam target global untuk menanggulangi permasalahan gizi, yakni:
1. Penurunan prevalensi stunting
2. Penurunan prevalensi anemia
3. Penurunan prevalensi berat badan lahir rendah (BBLR)
4. Penurunan prevalensi kelebihan berat badan (overweight)
5. Peningkatan pemberian ASI eksklusif
6. Penurunan prevalensi wasting (kurus akibat gizi buruk akut).
BACA JUGA: Film Superman Diduga Sindir Penjajahan Israel & AS di Palestina
Di Indonesia, sambungnya, anak-anak masih menghadapi tantangan besar berupa Triple Burden of Malnutrition atau tiga beban gizi.
Kondisi ini terjadi ketika suatu daerah secara bersamaan menghadapi undernutrition (gizi kurang), overnutrition (gizi lebih/obesitas), micronutrient Deficiency (kekurangan zat gizi mikro).
"Meski demikian, berbagai intervensi pemerintah untuk mengatasi permasalahan gizi mulai menunjukkan hasil positif," katanya lagi, dikutip dari berbagai sumber.
Data BGN menunjukkan prevalensi stunting menurun dari 21,5 persen pada tahun 2023 menjadi 14,8 persen pada tahun 2024.
Begitu juga dengan prevalensi wasting yang turun dari 8,5 persen menjadi 7,4 persen pada periode yang sama.
“Karena itu, kita harus terus mengupayakan penurunan permasalahan gizi anak-anak bangsa demi mewujudkan Indonesia Maju 2045. Intervensi harus dilakukan sepanjang siklus kehidupan, dimulai dari ibu hamil, ibu menyusui (untuk meningkatkan kualitas ASI), hingga pada anak balita dan remaja,” tambah Ikeu.
Ia juga menekankan pentingnya intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Masa ini disebut sebagai “periode emas” dalam menentukan status gizi dan tumbuh kembang anak ke depan.
“Karena itu, BGN sangat menaruh perhatian pada kelompok ini. Salah satu sasaran utama penerima makanan bergizi adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita dalam 1.000 hari pertama mereka,” tegasnya. (yayu)
Editor: Yayu