“Biasanya orang tua gengsi kasih jabatan ke anak muda, tapi ini luar biasa banget, hormat buat warga Koja!” tambah komentar lainnya.
Netizen: Dari Kagum hingga Satir Gen Z Titipan “Bekingan”
Berita ini viral di media sosial dan banjir reaksi warganet. Tak sedikit yang menyentil soal anak muda yang naik jabatan karena “bantuan orang dalam” – membandingkan dengan Sahdan yang naik murni karena kepercayaan warga dan kapabilitas pribadi.
“Jangan bedain sama yang naik jabatan karena BEKINGAN bapaknya, ini murni hasil kerja,” komentar pedas netizen.
“Gua besok nyalonin diri jadi kades, siapa tau ketularan hoki Sahdan,” canda lainnya.
Bukan Cuma Gaya, Anak Muda Ini Sat-Set dan Kerja Nyata
Sahdan dan timnya memang masih muda, tapi kinerjanya terbukti tidak kalah dari pengurus RT senior. Mereka aktif mengelola program kebersihan, pengaduan warga, serta digitalisasi laporan RT secara berkala. Semuanya dilakukan dengan pendekatan kekinian namun tetap profesional.
“Pemimpin yang dibutuhkan memang anak muda yang sat-set, cepat gerak, bukan cuma pencitraan,” komentar warga lokal.
Menariknya, banyak netizen penasaran bagaimana cara warga memanggil Sahdan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah “Pak RT” atau “Mas RT”? Meskipun terlihat santai, warga tetap memberikan penghormatan layaknya pemimpin komunitas.
“Ya tetap kami panggil Pak RT. Umurnya boleh muda, tapi tanggung jawabnya besar,” ujar salah satu warga.
Langkah Sahdan dan timnya menjadi simbol bahwa anak muda tidak boleh hanya duduk di pinggir lapangan politik dan sosial. Mereka bisa menjadi penggerak, pemimpin, bahkan panutan—selama diberi ruang dan kepercayaan.

