DETIK-DETIK! Penemuan KMP Tunu Pratama Jaya Dasar Selat Bali oleh TNI AL, Netizen: “Lambat, Banyak Masih Terjebak!”
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BALI – Setelah hampir dua minggu pencarian intensif, TNI Angkatan Laut akhirnya menemukan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya, kapal nahas yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu, 2 Juli 2025. Kapal tersebut terdeteksi menggunakan pemindaian bawah laut oleh KRI Spica-934, kapal survei hidro-oseanografi milik TNI AL.
Penemuan ini dikonfirmasi oleh Laksamana Pertama TNI Endra Hartono, Komandan Gugus Tempur Laut Koarmada II.
“Kami melakukan pemindaian bawah air berulang kali. Dari empat kali percobaan, kami yakin itu bangkai KMP Tunu Pratama Jaya, karena terlihat nama dan ciri bagian bawah kapal,” ungkapnya, Minggu (13/7/2025).
BACA JUGA:BREAKING NEWS! Kecelakaan Maut di Jalan Lingkar Selatan Banjarmasin, 2 Sopir Terjepit di Kabin Truk!
Ditemukan di Kedalaman 49 Meter: Tragis & Sunyi
Bangkai kapal ditemukan di kedalaman sekitar 49 meter di bawah permukaan Selat Bali. Tim masih terus melakukan analisa citra dan observasi visual guna memastikan tidak ada korban yang terjebak di dalam badan kapal.
Namun, di tengah keberhasilan ini, muncul berbagai pertanyaan publik soal keterlambatan penanganan, transparansi informasi, dan kesigapan SAR nasional.
Netizen Kritik Lambannya Respon & Minimnya Teknologi
Kolom komentar media sosial dibanjiri kritik dan saran dari masyarakat:
“Berhasil sih, tapi jadi tahu setertinggal itu...”
“Kenapa nggak langsung kirim helikopter dan rescue tim sejak awal? Koordinasi lamban!”
“Gunakan robot bawah laut, jangan andalkan kamera diikat rantai kapal!”
“Yg kejebak katanya masih banyak. Cepat evakuasi dong!”
“Jangan cuma salahkan cuaca. Banyak kapal udah usang, nggak layak jalan!”
Beberapa netizen juga menyinggung soal kurangnya penggunaan teknologi canggih seperti ROV (Remotely Operated Vehicle) atau robot penyelam dalam operasi pencarian.
Pertanyaan Besar: Apa Selanjutnya?
Setelah bangkai kapal ditemukan, masyarakat menuntut kejelasan soal:
Apakah masih ada korban yang terjebak?
Apakah akan dilakukan evakuasi jenazah dan muatan?
Bagaimana hasil investigasi KNKT soal penyebab kecelakaan?
Siapa yang akan bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal?
Penemuan bangkai kapal memang sebuah kemajuan, tapi belum cukup. Masyarakat membutuhkan transparansi, ketegasan, dan modernisasi sistem pelayaran nasional. Kapal tua yang tak layak tak boleh lagi diizinkan mengangkut nyawa manusia di perairan Nusantara.(Wartabanjar.com/kompascom/berbagai sumber)
editor: nur muhammad