https://youtube.com/shorts/eMQd9kOGJLw ‎WARTABANJAR.COM - Di era digital seperti sekarang, batas budaya makin kabur. Apa yang kita tonton, dengar, dan baca bisa datang dari mana saja termasuk dari negara tetangga. Tapi, ketika budaya populer mulai memengaruhi ruang formal seperti pendidikan, pertanyaannya adalah apakah ini sekadar pengaruh ringan, atau pertanda perubahan lebih besar? ‎ ‎Sebuah video viral dari Malaysia baru-baru ini menyulut tawa sekaligus diskusi. Diunggah oleh akun TikTok @cikgugja pada Minggu (6/7/2025), video tersebut menampilkan seorang guru perempuan yang tengah menegur muridnya karena menulis karangan dengan kosakata berbau Bahasa Indonesia. ‎ ‎Guru itu juga menambahkan bahwa murid-murid mungkin terlalu banyak mengonsumsi konten dari Indonesia, sehingga mulai terbawa dalam cara mereka menulis. Ia pun berpesan kepada murid - muridnya agar mengurangi menonton konten Indonesia. ‎Respons publik pun bermacam-macam. Sebagian besar warganet mengaku terhibur dengan gaya sang guru yang tegas tapi menggemaskan. Bahkan, banyak komentar yang justru malah menyoroti paras sang guru yang dianggap "cantik dan galak dalam satu paket". ‎ ‎Namun di balik gelak tawa itu, ada diskusi yang tak bisa diabaikan, seberapa besar pengaruh budaya populer lintas negara terhadap bahasa dan identitas? ‎ ‎Indonesia dan Malaysia memang negara serumpun. Keduanya berbagi akar bahasa Melayu, meski berkembang dalam arah yang berbeda. Namun kini, dengan masifnya konten digital dari Indonesia baik drama, lagu, TikTok, hingga YouTube pengaruhnya terasa semakin kuat di kalangan muda Malaysia. ‎ ‎Dan ini bukan pertama kalinya. Sebelumnya, sejumlah warganet Malaysia sempat mengeluhkan bahwa anak-anak mereka mulai mengucapkan kata seperti “kamu”, “enggak”, bahkan “mantap” saat berbicara sehari-hari. ‎ ‎Pertanyaannya, apakah ini ancaman bagi identitas lokal? Atau justru bagian dari dinamika alami bahasa yang selalu berkembang dan bersilangan? ‎ ‎Bagi sebagian orang, ini hanya soal kosakata. Tapi bagi yang lain, ini bisa menjadi cerminan dari "soft power" pengaruh budaya yang menyebar tanpa paksaan, melalui tontonan dan kebiasaan digital sehari-hari. ‎ ‎Pada akhirnya, mungkin bukan soal siapa memengaruhi siapa. Tapi bagaimana generasi muda bisa tetap menghargai akar bahasanya, sambil tetap terbuka terhadap budaya tetangga. Karena dalam dunia yang makin terhubung, yang dibutuhkan bukan pembatas, tapi kesadaran akan identitas.(vri/berbagai sumber) #bahasa #malaysia #indonesia #konten #wartabanjar