“Tidak ada pemukulan. Itu hanya miskomunikasi. Bahkan kami sudah saling memaafkan di tempat, disaksikan keluarga,” tulisnya melalui WhatsApp.
Ia mengklaim kejadian telah selesai secara kekeluargaan dan menyebut CV dan ibunya telah berdamai dengannya.
Netizen Naik Pitam
Insiden ini viral di media sosial. Banyak warganet meragukan integritas penanganan kasus oleh institusi kepolisian sendiri. Berikut beberapa komentar yang menyita perhatian:
“Cuma gara-gara mie telur bisa main tangan, pangkat tinggi kok emosi rendah.”
“Kalau nggak ada CCTV ya auto lolos.”
“Oknum dilaporkan ke oknum. Udah tau kan ending-nya gimana?”
“Mutasi ke Papua Pegunungan cocok banget!”
“Bikin malu seragam dan jabatan. Hanya karena telur.”
Kasus dugaan penganiayaan oleh pejabat kepolisian terhadap remaja di bawah umur, hanya karena kesalahan penyajian makanan, membuka kembali perbincangan publik soal arogansi kekuasaan dan akuntabilitas institusi. Meski klarifikasi damai sudah disampaikan, tekanan publik dan desakan lembaga seperti Komnas HAM memperjelas bahwa penyelesaian hukum tak bisa hanya disapu di bawah karpet.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







