WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Berawal dari produksi kecil-kecilan bermodal 5 kilogram ikan, usaha rumahan Amplang Omega di Desa Takisung, Kabupaten Tanah Laut kini menjelma menjadi ikon oleh-oleh khas Kalimantan Selatan yang dikenal hingga ke Pulau Jawa dan Sulawesi. Usaha yang didirikan oleh Mugni sejak 2013 ini bertahan dan terus berkembang meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kelangkaan gas hingga sulitnya mendapatkan pasokan ikan saat musim laut bergelombang. “Dulu cuma usaha sampingan, pakai 5 kilo ikan. Tapi karena permintaan makin banyak, saya mulai serius sejak 2017 sampai sekarang,” ujar Mugni, Sabtu (31/5/2025), di rumah produksinya yang terletak di Jalan Wisata Takisung, RT 04 RW 02. BACA JUGA:Sunset Romantis di Pantai Takisung: Magnet Malam Minggu Favorit Warga Tanah Laut Kini, Mugni mampu memproduksi hingga 30 kilogram ikan tenggiri segar setiap harinya. Produk Amplang Omega dibuat dari daging ikan tenggiri berkualitas tinggi, dengan campuran tepung kanji 50 persen. Dari tiap kilogram ikan, diambil sekitar 7 ons daging murni. Amplang ini hadir dalam tiga varian rasa favorit: original, pedas, dan balado. Selain itu, produk ini telah mengantongi izin resmi dari BOPM dan P-IRT, menandakan kualitas dan keamanannya sebagai oleh-oleh konsumsi. Harga pun cukup ramah di kantong: Rp4.000 (kemasan 45 gram) Rp8.000 (75 gram) Rp120.000 (per kilogram) Produk Amplang Omega kini dipasarkan melalui berbagai jalur, termasuk Dekranasda, pusat oleh-oleh wisata, serta telah merambah pasar luar pulau. Beralih Nama demi Identitas yang Kuat Awalnya, usaha ini bernama “Amplang Takisung.” Namun Mugni kemudian menggantinya menjadi Amplang Omega, terinspirasi dari kandungan omega dalam ikan dan untuk membedakan dengan produsen lain yang mungkin memakai nama daerah yang sama. “Kalau pakai nama Takisung aja, bisa membingungkan karena itu nama kecamatan. Jadi saya pilih nama Omega karena ikan itu kan mengandung omega,” jelasnya. Tantangan Produksi: Musim Laut dan Gas Langka Meski permintaan meningkat, proses produksi kerap terhambat oleh dua kendala besar: musim gelombang tinggi dan kelangkaan gas LPG. Saat laut bergelombang, nelayan sulit melaut sehingga pasokan ikan menjadi langka. “Kalau musim ribut, ikan susah dicari. Kadang mau produksi tapi nggak ada bahan bakunya,” ujar Mugni. Selain itu, keterbatasan gas membuat produksi hanya bisa dilakukan maksimal tiga kali dalam sehari. Ia berharap ada perhatian khusus dari pemerintah, terutama terkait bantuan mesin dan ketersediaan gas untuk UMKM. “Semua masih manual, tenaga manusia kan ada capeknya juga. Kadang permintaan banyak tapi kami kewalahan,” ungkapnya. Amplang Omega: Kebanggaan Lokal yang Menginspirasi Meski penuh tantangan, semangat Mugni dan kualitas produknya menjadikan Amplang Omega sebagai salah satu oleh-oleh andalan Kalimantan Selatan. Tak hanya menghadirkan cita rasa gurih yang khas, tetapi juga menjadi bukti bahwa semangat dan konsistensi dapat mengubah usaha kecil menjadi bisnis yang besar dan membanggakan.(Wartabanjar.com/Gazali) editor: nur muhammad