“Logo bukan sekadar urusan estetika. Harus ada makna, identitas, dan konsep yang kuat di dalamnya,” ujarnya.
Ia menilai, kurangnya transparansi mengenai siapa saja yang menjadi dewan juri memperparah masalah. “Kalau dewan jurinya tidak punya latar belakang DKV atau pemahaman budaya visual, maka ini jadi kelalaian serius,” tambah Novyandi.
Bagi Novyandi, logo hari jadi seharusnya menjadi simbol kebanggaan kota, bukan sumber kontroversi tahunan.
“Kita ini kota kreatif, tapi logo yang muncul seolah-olah tidak lahir dari ruang kreatif,” kritiknya.
Ia berharap ke depan, Banjarbaru bisa lebih selektif dan serius dalam menampilkan wajah kota lewat karya visual.
“Masyarakat Banjarbaru pantas mendapatkan simbol yang bisa dibanggakan,” pungkas Novyandi. (IKhsan)
Editor Restu







