Warga Batakan Diterkam Buaya, BKSDA Kalsel : ‘Karena Ada Konflik’

WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Seorang warga Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut menjadi korban gigitan buaya pada Minggu, 6 April 2025.

Peristiwa ini menambah daftar panjang konflik antara manusia dan buaya di wilayah pesisir Tanah Laut, khususnya di kawasan Batakan yang berbatasan langsung dengan habitat alami buaya seperti Sanipah.

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Kalimantan Selatan, Agus Irwan mengatakan ada konflik antara buaya dan manusia di kawasan Batakan bukanlah hal baru.

Baca Juga

BREAKING NEWS – TNI AL Resmi Serahkan Tersangka Pembunuh Jurnalis Juwita ke Odmil Banjarmasin

“Hampir tiap bulan ada konflik, khususnya di Batakan. Ini terjadi karena adanya singgungan habitat antara manusia dan buaya,” jelasnya.

Ia menyebut, setelah diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024, terjadi perubahan kewenangan dalam pengelolaan satwa liar, terutama satwa perairan.

“Dulu kalau soal buaya, penyu, atau ikan dilindungi itu tanggung jawab kami. Sekarang dialihkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” tambah Agus.

Namun, Agus menegaskan bahwa BKSDA tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap kejadian-kejadian seperti ini.

“Kami tetap turun tangan kalau ada laporan dari masyarakat atau pihak kecamatan,” katanya.

Terkait buaya yang menyerang warga, pihak BKSDA telah memasang perangkap sejak hari Senin (7/4).

Perangkap yang digunakan adalah jenis kerangkeng apung yang diberi umpan di dalamnya.

“Buaya masuk ke perangkap untuk mengambil umpan dan tidak bisa keluar lagi.

Baca Juga :   Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga Pangan melalui Gerakan Tanam Cabai-Bawang di Kabupaten Banjar

Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

BERITA LAINNYA

TERBARU HARI INI

paling banyak dibaca