WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Awan gelap kembali menyelimuti pasar keuangan Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terperosok tajam, menembus level psikologis Rp17.000 di pasar non-deliverable forward (NDF), dipicu memanasnya konflik dagang global.
Berdasarkan data Bloomberg per Jumat malam (4/4/2025), kontrak NDF rupiah mencatat pelemahan signifikan sebesar 1,58%, menyentuh Rp17.006 per dolar AS. Angka ini menjadi alarm baru bagi stabilitas ekonomi dalam negeri.
Penyebab utamanya adalah kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Melalui skema tarif resiprokal, Trump menaikkan bea masuk produk non-migas dari berbagai negara mitra, termasuk Indonesia, hingga 32%.
Langkah agresif ini sontak mengguncang pasar mata uang, menimbulkan ketidakpastian baru di tengah ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.
BACA JUGA:Aksi Freestyle di Jalan Raya Bikin Geger! Netizen Murka: “Pasangan yang Dirindukan Aspal”
Rupiah Terjebak di Pusaran Perang Dagang
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan tarif tersebut menjadi katalis utama pelemahan nilai tukar rupiah.
“Ketegangan perang dagang saat ini bisa kembali menyeret rupiah ke zona lemah. Dalam waktu dekat, ada kemungkinan rupiah dibuka di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000,” ungkapnya.
Kondisi kian memburuk setelah Tiongkok mengumumkan balasan terhadap kebijakan tarif AS. Negeri Tirai Bambu itu akan mengenakan tarif tambahan sebesar 34% terhadap seluruh produk asal Amerika dan memperketat ekspor komoditas strategis seperti samarium, gadolinium, terbium, diprosium, lutetium, scandium, dan itrium—material penting dalam industri teknologi dan pertahanan.