WARTABANJAR.COM – Di tengah bencana gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025), junta militer justru tetap melancarkan serangan ke sebuah desa di Negara Bagian Shan, memperparah penderitaan warga sipil.
Dikutip dari nixnews.id, pendiri organisasi kemanusiaan Free Burma Rangers, David Eubank, mengungkapkan bahwa serangan udara terjadi hampir bersamaan dengan guncangan gempa dan berlanjut hingga tiga jam setelahnya.
“Serangan udara ini merupakan tambahan dari rentetan serangan artileri dan darat yang terus berlangsung di berbagai wilayah Myanmar, meskipun negara ini baru saja diguncang gempa bumi dahsyat,” ujar Eubank dalam laporan The Irrawaddy, Senin (31/3/2025).
BACA JUGA:Terungkap! Mengapa Gempa Myanmar 7,7 Magnitudo Sangat Dahsyat dan Mematikan
Serangan Brutal di Tengah Bencana
Konfirmasi dari BBC Myanmar menyebutkan bahwa sedikitnya tujuh orang tewas akibat serangan udara di Naung Cho, Shan. Serangan ini terjadi sekitar pukul 15.30 waktu setempat, hanya beberapa jam setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Tak hanya di Shan, junta juga dilaporkan membombardir wilayah Ching U di barat laut Sagaing dan beberapa area di perbatasan Myanmar-Thailand. Kelompok pro-demokrasi melaporkan bahwa serangan udara dan artileri ini terus berlangsung meski warga tengah berjuang menyelamatkan diri dari dampak gempa.
Dalam pernyataan resminya, oposisi junta dari Karen National Union mengecam aksi brutal tersebut. “Junta militer terus menargetkan warga sipil dengan serangan udara, bahkan ketika mereka sedang menghadapi penderitaan akibat gempa bumi,” tulis kelompok tersebut.
Biasanya, dalam situasi bencana, prioritas militer adalah memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Namun, kali ini junta justru lebih fokus mengerahkan pasukan untuk menyerang rakyatnya sendiri.







