Dalam ayat ini, Allah juga menyebutkan bahwa “malam yang diberkahi” tersebut memiliki keistimewaan karena menjadi momen penting turunnya wahyu yang mengandung peringatan bagi manusia.
Menurut Quraish Shihab, turunnya Al-Qur’an bukan hanya sebagai peristiwa biasa, tetapi memiliki dampak besar bagi kehidupan manusia.
Wahyu yang turun membawa petunjuk dan peringatan, yang mengarahkan manusia kepada jalan yang benar.
Selain itu, penggunaan kata “Ha Mim” di awal surah ini menunjukkan pola khas dalam beberapa surah Al-Qur’an.
Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya, namun Quraish Shihab mengarahkan kita untuk melihatnya sebagai bagian dari gaya bahasa Al-Qur’an yang unik.
Melalui sumpah Allah terhadap Al-Qur’an, ayat ini semakin menegaskan keagungan wahyu yang diturunkan, serta urgensi mengikuti tuntunannya dalam kehidupan.
Imam Qurthubi dalam kitab Al-Ahkam li Ahkami Al-Qur’an menjelaskan bahwa pada “malam yang diberkahi” bukan hanya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an, tetapi juga saat diturunkannya kitab-kitab suci sebelumnya.
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad, suhuf Nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat pada tanggal enam, Zabur pada tanggal dua belas, Injil pada tanggal delapan belas, dan Al-Qur’an pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.
“Shuhuf (lembaran-lembaran wahyu) Nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Zabur diturunkan pada hari kedua belas Ramadhan. Injil diturunkan pada hari kedelapan belas Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan pada hari kedua puluh empat Ramadhan.” (HR. Baihaqi)
Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa, karena menjadi bulan di mana wahyu Allah diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia di berbagai zaman.
Al-Qur’an sendiri diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadr, sebelum kemudian diwahyukan secara bertahap kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun.
Penurunan wahyu secara bertahap ini menunjukkan kebijaksanaan Allah dalam memberikan wahyu sesuai dengan kondisi dan kebutuhan umat saat itu. “Qatadah dan Ibnu Zaid berkata: Allah menurunkan seluruh Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar dari Ummul Kitab ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian Allah menurunkannya kepada Nabi Muhammad secara bertahap dalam malam-malam dan hari-hari selama dua puluh tiga tahun. Makna ini telah disebutkan sebelumnya dalam (Surah Al-Baqarah) pada firman Allah Ta’ala: ‘Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an,’ dan akan disebutkan kembali setelah ini, insya Allah Ta’ala,” (Imam Qurthubi, Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an, [Beirut: Darul Fikr, tt], Jilid XVI, hlm. 116).
Dengan demikian, Surat Ad-Dukhan ayat 3 memberikan pesan penting tentang kemuliaan Lailatul Qadar.
Malam ini adalah saat yang penuh keberkahan; Al-Qur’an diturunkan, dan takdir tahunan manusia ditetapkan.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa pada malam-malam terakhir di bulan Ramadhan agar mendapatkan keberkahan yang Allah janjikan. Wallahu a’lam. (Sumber : NU Online)







