“Ke depan, kami juga akan mengadakan lomba Bapantun sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi mereka,” tambah Fitriah.
Meski dihadapkan pada tantangan era digital, pemerintah optimistis bahwa budaya Bapantun tetap bisa berkembang.
“Di era digital ini, tantangannya cukup berat, tetapi kami akan terus berupaya melestarikan budaya Banjar,” papar Fitriah
Dengan adanya workshop dan lomba, kami berharap anak muda semakin aktif dalam menjaga tradisi ini,” tambah .
Workshop ini terbuka bagi kaum milenial berusia 16 hingga 30 tahun, karena mereka dianggap sebagai generasi yang paling aktif dalam mengadopsi dan meneruskan budaya lokal.
“Sebelum berlomba, peserta mendapatkan pelatihan dasar dalam merangkai pantun, sehingga mereka lebih siap untuk berpartisipasi,” ungkap Fitriah.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan tradisi Bapantun tetap hidup di tengah masyarakat dan semakin diminati oleh generasi muda. (Ramadan Anwar)
Editor: Erna Djedi







