Menurutnya, banyak capaian akademik formal bagi anak yang tidak tercapai jika ada libur selama satu bulan penuh pada Ramadhan.
“Ini jelas sekali yang dalam satu bulan ada kurikulum yang harusnya dicapai, tiba-tiba diliburkan. Ini kekurangan belajarnya nanti dibayarnya di mana? Puasa saja, dibayar, masa belajar tidak,” ujarnya kepada NU Online pada Ahad (5/1/2025).
Iman mengatakan bahwa dengan pengurangan jam belajar selama satu bulan, yang terkena dampak kerugiannya adalah anak didik karena kehilangan materi yang seharusnya mereka dapatkan.
Baca juga:Pro-Kontra Wacana Libur Sekolah Selama Ramadhan, Ini Kata Ketua PBNU Gus Yahya
“Mungkin akan disusul tapi waktunya kurang cukup, jadi ada potensi learning loss. Learning loss ini cara menggantikannya seperti apa? Kalau dengan penugasan, bisa berlaku jika anak-anak memiliki sistem pengawasan yang baik ketika tidak di sekolah. Tapi apakah sistem pembelajaran tersebut bisa dilakukan oleh semua orang tua? Untuk orang tua yang bekerja, tentu ini akan sulit sekali,” katanya.
Iman justru memprediksi anak-anak justru akan lebih sering bermain gawai di rumah ketika libur selama Ramadhan.
Inilah yang menurutnya harus diwaspadai oleh Kemenag, sebelum menerapkan kebijakan libur Ramadhan.
Ia juga menyatakan bahwa dengan libur satu bulan selama Ramadhan, guru sekolah atau madrasah swasta khawatir gaji mereka akan berkurang.
Karena orang tua akan keberatan membayar iuran SPP jika anaknya libur sekolah.
“Guru-guru swasta terutama yang honorer ini khawatir, karena ketika sebulan itu libur, maka mereka dianggap tidak ada jam pelajaran, sementara di beberapa sekolah madrasah ini kan ada guru yang digaji berdasarkan hitungan jam mengajar,” ujar Iman.
“Misalkan sebulan penuh tidak belajar, guru-guru swasta pendapatan mereka menurun, padahal kebutuhan belanja saat bulan puasa ditambah Idul Fitri meningkat,” imbuhnya. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







