Kesulitan Tangkap Fredy Pratama, Royal Thai Police Butuh Waktu
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Gembong narkoba jaringan internasional asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) Fredy Pratama hingga kini tak kunjung tertangkap. Ia disinyalir bersembunyi di Thailand dan mendapat perlindungan jaringannya di sana.
Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Pol. Krishna Murti memastikan Kepolisian Thailand, Royal Thai Police hingga kini masih berkomitmen serius membantu Indonesia. Namun memang butuh waktu untuk pihak kepolisian setempat menangkap Fredy.
"Untuk kasus tersebut 100 persen mereka serius menangkap, membantu kami," kata Krishna saat penyerahan buron interpol di Direktorat Jenderal Imigrasi, Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Baca juga: RSDKH Balangan Luncurkan Inovasi SICOMEL dan SIBER untuk Tingkatkan Pelayanan
Menurutnya, menangkap Freddy bukan hal yang mudah meski telah terdeteksi keberadaannya sejak empat bulan terakhir.
"Hanya mereka meminta waktu, karena itu sudah ada jaminan dari Perdana Menteri Thailand," katanya seperti dikutip Wartabanjar.com.
Dirinya juga menyebut kasus gembong narkoba yang berada di Filipina. Indonesia juga mendapat jaminan dari Presiden Filipina yang mendukung pemulangan tersangka ke Indonesia.
Baca juga: Syaibani Dorong Kemajuan Petani dan UMKM di Balangan
"Sama dengan kasus gembong narkoba yang ada di Filipina, kami mendapatkan jaminan dari Presiden Filipina juga untuk mensupport penuh pemulangan tersangka," papar Krishna.
Dikutip dari beberapa sumber terpercaya, jaringan Fredy Pratama sudah beraksi sejak 2009 dan berjalan terorganisir dengan baik. Sejak tahun 2020, Bareskrim Polri sudah meringkus ratusan pelaku yang diduga kuat anggota jaringan Fredy Pratama. Dalam kasus Fredy Pratama, Bareskrim menyita hasil pencucian uang mencapai Rp65 miliar.
Lantas seperti apa profil Gembong Narkoba Internasional Fredy Pratama hingga sulit dibekuk? Berikut ini biodatanya:
Baca juga: Polsek Panyipatan Gerak Cepat Padamkan Titik Api di Desa Batakan
Fredy Pratama merupakan pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 25 Juni 1985. Buronan 38 tahun ini, masih dicari Bareskrim Polri karena jaringannya terus berkeliaran di Indonesia.
Fredy Pratama merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa. Profesi dan aksinya itu, disebut-sebut mencoreng nama etnisnya. Ayahnya bernama Lian Silas yang bekerja sebagai pebisnis.
Polri nampaknya serius melakukan barter buronan kriminal dengan Kepolisian Thailand. Polri menginginkan Kepolisian Thailand menangkap Fredy Pratama untuk ditukar dengan Chaowalit Thungduang alias Sulaiman.
Baca juga: Rugikan UMKM, Kominfo Take-Down Aplikasi E-Commerce Temu
Diketahui, Bareskrim Polri berhasil menangkap buronan nomor satu Thailand Chaowalit Thungduang di Indonesia. Oleh sebab itu, Polri mengharapkan, Kepolisian Thailand segera menangkap Fredy yang bersembunyi di negara gajah putih itu. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko