WARTABANJAR.COM – Awal hingga pertengahan Oktober mendatang, sejumlah wilayah Indonesia memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju penghujan atau pancaroba.
Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.
Karakteristik hujan pada periode peralihan cenderung tidak merata dengan intensitas
sedang hingga lebat dalam durasi singkat.
Baca Juga
Kondisi Pria Ditemukan Tewas di Jalan Veteran BanjarmasinÂ
Apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat.
Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es.
Dalam sepekan ke depan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat
disertai kilat/petir dan angin kencang.
Dalam skala global, nilai lOD, SOI, dan Nino 3.4 tidak signifikan terhadap peningkatan
curah hujan di wilayah Indonesia.
Berdasarkan model filter spasial MJO pada 30 September – 01 Oktober 2024, gangguan fenomena MIO secara spasial terprediksi aktif di sekitar wilayah Samudera Hindia sebelah barat laut Sumatera, yang berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.







