Erupsi 139 Detik, PVMBG Tetapkan Gunung Semeru Berstatus Waspada
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Gunung Semeru di Pulau Jawa sejak beberapa hari lalu selalu aktif berasap dan erupsi.
Hingga hari ini, Sabtu (3/8/2024) sudah terjadi banyak sekali erupsi Gunung Semeru.
Karenanya, Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) mengevaluasi aktivitas Gunung Semeru.
PVMBG menetapkan Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur ini berstatus Waspada atau Level II.
Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya dalam keterangan tertulisnya di Lumajang mengatakan hasil evaluasi mencatat bahwa aktivitas Gunung Semeru periode 16-31 Juli 2024 memperlihatkan bahwa aktivitas erupsi, awan panas, dan guguran lava masih terjadi.
"Namun secara visual jarang teramati karena cuaca kabut," katanya.
Akumulasi material hasil erupsi maupun pembentukan scoria cones Gunung Semeru berpotensi menjadi guguran lava pijar atau awan panas.
"Material guguran lava dan atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru berpotensi menjadi lahar, jika berinteraksi dengan air hujan," tuturnya.
Selain itu, interaksi endapan material guguran lava atau awan panas yang bersuhu tinggi dengan air sungai akan berpotensi terjadinya erupsi sekunder.
Ia mengatakan dalam periode itu jumlah gempa yang terekam menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Semeru masih relatif tinggi, terutama gempa letusan, guguran, harmonik, dan vulkanik dalam.
Gempa vulkanik dalam dan tremor harmonik yang terekam mengindikasikan suplai dari bawah permukaan Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan, serta adanya proses penumpukan material hasil letusan di sekitar kawah Jonggring Seloko.
Terekamnya kejadian getaran banjir dalam periode itu, sambungnya, mengindikasikan adanya kejadian lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama yang mengarah ke aliran Besuk Kobokan.
"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada Level II atau Waspada dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini," katanya lagi.
Karena berstatus Waspada, maka masyarakat di sekitar dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh delapan km dari puncak (pusat erupsi).
Kemudian di luar jarak tersebut, lanjutnya, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 km dari puncak.
Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius tiga km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Selain itu, warga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Erupsi 139 Detik
Sebelumnya, pada Kamis (1/8/2024) pukul 05.03 WIB, Gunung Semeru juga dilaporkan erupsi.
Kala itu erupsinya berlangsung selama 139 detik dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 mdpl.
"Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 139 detik," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Ghufron Alwi dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang.
Kolom abu vulkanik, katanya, teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. (yayu/berbagai sumber)
Editor: Yayu