Trending Topic di Twitter atau X, ini Arti dan Asal Usul Slogan ‘All Eyes on Rafah’

Sementara di X, sudah lebih dari 100 juta warganet menyebarkannya.

Asal-Usul Istilah “All Eyes On Rafah”

Mulanya, slogan ini berasal dari komentar Rick Peeperkorn, direktur Kantor Wilayah Pendudukan Palestina di Organisasi Kesehatan Dunia.

Pada Februari 2024, dia mengatakan “Semua mata tertuju pada Rafah” setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan rencana evakuasi ke kota tersebut menjelang serangan yang direncanakan.

Netanyahu mengklaim bahwa Rafah adalah benteng terakhir kelompok militan Hamas yang tersisa.

Ungkapan ini dimaksudkan sebagai permintaan bagi para pengamat untuk tidak berpaling atau cuek terhadap apa yang terjadi di Rafah, tempat sekitar 1,4 juta pengungsi berlindung setelah melarikan diri dari pertempuran di tempat lain di Gaza.

Apa yang Terjadi di Rafah?

Ilustrasi kawasan kamp pengungsian Rafah di Gaza, Palestina yang terbakar akibat serangan bom Israel, Minggu (26/5/2024) malam waktu setempat. Foto: X/Said_Hassan

Dilansir Al-Jazeera, Israel melancarkan serangan udara di area kamp pengungsian Rafah yang dikelola UNRWA, di Jalur Gaza bagian selatan, pada Minggu (26/5/2024) malam waktu setempat, beberapa jam setelah dewan rakyat Israel, Knesset menyebut bahwa UNRWA adalah teroris.

Sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Serangan Israel terhadap Rafah dilakukan beberapa hari usai Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan serangannya di Rafah.

Sayangnya, otoritas Israel menolak perintah ICJ tersebut dengan dalih tergas bahwa serangan di Rafah tidak berisiko memusnahkan warga sipil Palestina yang ada di sana.

Slogan “All Eyes on Rafah” kini menjadi seruan global untuk memperhatikan dan mendukung perjuangan penduduk Rafah di tengah serangan penjajah Israel.

Dukungan masif dari seluruh dunia sangat diperlukan untuk menghentikan aksi genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina selama ini. (yayu/berbagai sumber)

Editor: Yayu