Mengenal Khong Guan, Biskuit Legendaris Yang Selalu Ada Di Meja Saat Lebaran (2)

Bernardus menggambar lukisan biskuit Khong Guan pada tahun 1970-an. Dirinya sempat mengajar graphic design, typography, dan reproduksi warna digital di LPKT. Ia juga sempat kuliah selama dua tahun di ITB.

Bernardus Prasodjo sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak sudah menggambar. Sampai orangtua marah-marah, karena baru dibelikan buku gambar, sudah penuh. Apa saja yang mau digambar, ia gambar.

“Seperti kalau sekarang pemandangan bisa pakai kamera. Kalau dulu, mau  pemandangan itu kami lukis,’ katanya.

Dirinya lebih senang menggambar langsung. Kepuasannya berbeda. Walaupun sekarang masih suka membuat iklan-iklan sendiri untuk kegiatan. Dirinya biasa menggunakan Photoshop agar lebih gampang.

“Dari kuliah enggak sengaja. Karena mendaftarnya di ITB, mesti ada dua pilihan. Pilihan pertama, saya arsitek. Pilihan kedua, seni lukis. Yang diterima di seni lukis, jadi ya sudah dijalani,” paparnya.

Baca juga: Jelang Idul Fitri, Lazis ASFA Kalsel Salurkan Zakat Tunai Kepada Imam dan Marbot Serta Lansia Jompo di Tanah Bumbu

Sejak jaman kuliah, dirinya kos di jalan Lengkong Kecil Bandung. Sebelah kosnya adalah percetakan redaksi majalah Aktuil. Majalah musik yang sangat terkenal di Bandung kala itu.

“Kami suka main ke situ, bantu-bantu buat ilustrasi. Keterusan. Lama-lama kuliahnya ketinggalan,” ceritanya.

Lalu ada yang memesan pembuatan komik di Aktuil yang dibuat berseri. Tak pelak banyak perusahaan yang ingin memesan ilustrasi produknya termasuk Khong Guan.

“Dulu, saya ke supermarket itu bangga sekali. Hampir semua etiket-etiket yang laku itu, saya yang bikin. Tetapi, makin ke sini, makin sedikit. Sekarang yang masih ada tinggal Khong Ghuan, Monde  sama Nissin wafer. Karena pemiliknya sama. Buat apa-apa diganti-ganti (gambarnya), itu saja sudah laku,” pungkasnya. (Sidik Purwoko)

Editor: Sidik Purwoko (berbagai sumber)