“Mudah-mudahan kreasi yang sudah dilaksanakan ini bisa dipertahankan walaupun bukan di bulan Ramadhan, sehingga kampung, RT, selalu indah, selalu nyaman, mudah-mudahan ini bisa menjadi daya tarik sendiri untuk Kota Banjarbaru,” katanya.
Aditya juga menjelaskan alasan Festival Salikur ini dilaksanakan di kampung-kampung.
“Memang kita sengaja membuat acara ini di kampung-kampung, bukan di jalan, kita tidak ingin ada titik kumpul karena banyak masyarakat yang terganggu, baik jalan macet dan lainnya,” imbuhnya.
Kemudian ia menambahkan, penilaian peserta yang mengikuti Festival Salikur ini berdasarkan estetika kreasi, inovasi, dan keindahan.
“Yang dinilai estetika di kampung-kampung, terutama di RT yang mendaftar (lomba salikur), melaksanakan kreasi, inovasi, keindahan kampung, itu yang dinilai,” ucapnya.
Diinformasikan, selain lomba menghias kampung, Festival Salikur juga menggelar lomba fotografi, yang mana objek foto tersebut merupakan tempat peserta lomba tanglong dan lampion. (MCBJB)
Editor Restu







