اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ هِلَالُ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
Artinya: “Ya Allah, perlihatkanlah hilal itu kepada kami dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, hilal petunjuk dan kebaikan.” (Kitab Riyadhus Shalihin).
Ketiga, menyucikan niat menjelang Ramadhan untuk menyucikan niat dalam beribadah. Hal ini agar ibadah puasa di bulan Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan semata-mata karena Allah SWT.
Keempat, mempersiapkan kesehatan fisik dan mental yang merupakan modal penting untuk menjalankan ibadah puasa dengan menjaga pola makan yang halal dan baik (thoyib), berolahraga, dan istirahat yang cukup sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh makna.
Kelima, memperdalam Ilmu di bulan
Ramadhan sebagai bulan pendidikan (tarbiyah) selama bulan Ramadhan agar dapat meningkatkan kualitas keilmuan melalui kurikulum kehidupan selama Ramadhan.
“Sehingga dapat mewujudkan kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial. Ditengan banyaknya masalah sosial seperti kemiskinan, ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Menurutnya, bulan Ramadhan hadir untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam menghadapi persoalan bangsa.
“Oleh sebab itu, momentum Ramadhan harus mampu menyelesikan salah satu problem bangsa yakni merosotnya nilai-nilai kejujuran dan keadilan,” tutupnya. (atoe/MUI)
Editor Restu







