“Biasanya saya jalur darat, memang lebih cepat tapi kita menghadapi macet, kalau jalur air lebih lambat tapi perjalanannya asik,” jelasnya.
Selama perjalanan, banyak sekali rest area di bantaran sungai yang mengajak kapalnya untuk mampir sekedar beristirahat.
“Tidak terhitung berapa banyak rest area yang menyuruh kami mampir, jadi kami mampir tiga kali,” ujarnya lagi.
Pastinya, ia dan seluruh penumpang tidak kelaparan karena selalu mendapatkan nasi bungkus.
“Alhamdulillah tidak kelaparan, yang ada kami kekenyangan,” katanya.
Selanjutnya, ia akan menginap di salah satu rumah warga yang sudah disediakan.
“Relawan sangat baik, kita disini tinggal makan dan tidur saja, penginapan pun sampai dicarikan,” pungkasnya.
Haji Junaidi pun berangkat ke penginapan di Desa Tunggul Irang Ulu menggunakan mobil pickup yang dioperasikan sebagai angkutan jemaah.
Sementara koordinator lapangan Dapur Umum Murung Kenanga, Abdul Qodir Badras menyatakan siap menyambut jemaah Haul ke-19 Guru Sekumpul yang datang dari jalur air.
“Jemaah tenang, kami disini bisa memastikan kalian tidak terlantar dan kelaparan,” pungkasnya.(nurul octaviani)
Editor Restu







