Bukan Salju, Fenomena Dataran Tinggi Dieng Adalah Embun Beku

“Sama halnya dengan siang hari, radiasi yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi pada malam hari juga optimum, karena langit bebas dari tutupan awan. Pancaran radiasi gelombang panjang dari bumi ini diiringi dengan penurunan suhu yang signifikan pada malam hari, dan mencapai puncaknya pada saat sebelum matahari terbit (waktu dimana suhu minimum umumnya tercapai),” jelasnya.

Perlu diingat, bahwa berbeda dengan dataran rendah, kelembaban udara cukup tinggi di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Kelembaban udara yang tinggi merupakan indikasi, bahwa udara di wilayah tersebut memiliki kadar air yang tinggi.

“Penurunan suhu yang terjadi secara kontinyu sejak malam hingga dini hari menyebabkan embun yang semula terbentuk dan menyelimuti rumput, dedaunan, atau tanaman kemudian membeku,” imbuhnya.

Ia menyebutkan fenomena ini bukanlah kejadian luar biasa dan umumnya terjadi di musim kemarau (Juni – September). Terkadang, fenomena ini juga terjadi pada Bulan Mei, namun mulai intens dan sering diamati mulai Bulan Juni dan puncaknya di Bulan Agustus.

Di sisi lain, dengan adanya fenomena ini merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, terutama yang memiliki hobi naik gunung dan ingin berwisata untuk menyaksikan embun upas secara langsung.

“Namun, diimbau kepada para wisatawan yang ingin berkunjung selama periode Juni-September untuk mengenakan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti jaket tebal/mantel, sarung tangan, kaus kaki, dan sepatu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama berwisata, karena pada waktu-waktu tertentu suhu udara di kawasan Dieng dapat berada di bawah 0°C,”tambahnya. (MC.TMG)

Editor Restu