Dengan kata lain, ada penambahan 7 kejadian karhutla hanya dalam empat hari di bulan Juli ini.
Kepala BNPB, Mayor Jenderal TNI Suharyanto, Rabu (5/7/2023) lalu menjelaskan faktor utama kenaikan frekuensi kejadian Karhutla pada Mei dan Juni karena efek El Nino yang signifikan di 2023.
Baca Juga: Tradisi Membeli Sapi Mati Diduga Menjadi Pemicu Merebaknya Antraks di Gunungkidul
Fenomena alam kenaikan suhu muka laut El Nino ini membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang dari tahun 2022 lalu.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati telah mewanti-wanti agar Indonesia mewaspadai kemarau kering pada 2023.
Hal ini akibat kemunculan El Nino dan Indian Ocean Dipole.
Dampaknya, curah hujan pada pada Agustus, September, Oktober 2023 diprediksi akan berada pada kategori di bawah normal, terutama wilayah Sumatera, Jawa Bali-NTB-NTT, sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi.
Pada periode itu, potensi karhutla bisa lebih besar dibanding saat kemarau basah pada 2020-2022.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) mengklaim pemerintah sudah mengantisipasi potensi meningkatnya kebakaran hutan akibat fenomena iklim El Nino beberapa bulan ke depan.
Direktur Kehutanan dan Sumber Daya Air Bappenas, Nur Hygiawati Rahayu mengatakan selain mewaspadai lahan gambut, pemerintah juga memantau ketat hutan dan lahan kering seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bencana kekeringan ini diprediksi dapat mencapai puncaknya di akhir 2023. (berbagai sumber)
Editor: Yayu







