Pertama, memperbanyak doa, zikir, istighfar, takbir, hingga sedekah saat terjadi gerhana. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW dari ‘Aisyah.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari Muslim).
- Melaksanakan salat gerhana
Pada salat gerhana tidak ada azan dan iqamah, panggilan untuk melaksanakan salat gerhana menjadi al-ṣalātu jāmi’ah.
Aisyah mengatakan dalam sebuah hadis, “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ash-ṣalātu jami’ah (mari kita lakukan salat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim).
Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari ini peristiwa gerhana, baik gerhana matahari ataupun bulan,
Pertama, ingat akan kebesaran Allah. Itu ditunjukkan dengan shalat khusuf, dzikir dan berdoa. Dengan sholat, dzikir dan berdoa selama gerhana berlangsung, umat Islam akan ingat akan tanda-tanda dan kebesaran Tuhan sebagai pencipta jagad semesta.
Kedua, ingat dosa-dosa. Ingat, gerhana juga menjadi pertanda alam bahwa akan terjadi bencana atau marabahaya. Untuk itu, umat Muslim diminta untuk istigfar atau memohon ampunan kepada Allah.
“Ketiga, memuji kepada Allah mengenai pesona ciptaan Allah. Selain istigfar, umat Islam diminta untuk mengumandangkan takbir yang berbunyi Allahuakbar, artinya: Allah maha besar,” tutup Ustad Rijal. (has)
Editor : Hasby







