Diutus Jokowi, Menko PMK Tinjau Stadion Kanjuruhan : Ya Gak Karu-Karuan

Disampaikannya, di saat Pemerintah berusaha memberikan kelonggaran dengan diperbolehkan memggelar sebuah event pertandingan liga resmi sepak bola, seiring dengan berakhirnya Covid 19, namun musibah ini justru terjadi.

”Kita menuju ke suasana endemi, kok diwarnai oleh kejadian dan musibah yang memilukan ini. Oleh Presiden Joko Widodo, kita diperintahkan untuk segera melakukan investigasi secepat mungkin dan harus ada yang bertanggung jawab. Dipastikan bahwa yang menjadi korban baik yang meninggal dunia dan cedera, atau luka mendapatkan pelayanan baik segi medis maupun yang lain dengan sebaik-baiknya. Bapak Presiden sudah meminta kepada Gubernur Jawa Timur mengkoordinasikan dan saya sudah koordinasi dengan Menteri Sosial, kita upayakan ada santunan dari Pemerintah Pusat. Bapak Presiden juga menyarankan pertandingan sepak bola khususnya Liga dihentikan dulu,” jelasnya.

Terkait adanya kemungkinan para korban meninggal akibat gas air mata, ia menyampaikan ke awak media bahwa hal itu bukan menjadi kewenangannya untuk menjawab. Namun dalam investigasi sesuai arahan Pak Presiden, lebih baik dilakukan secepat.

Disamping itu, kalau ada keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya, terutama Aremania supaya segera melakukan pengecekan di RSSA Kota Malang.

”Di rumah sakit itu ada 19 korban yang belum teridentifikasi. Kalau yang lain sudah teridentifikasi dan sudah diambil oleh para keluarga. Total korban meninggal dunia berjumlah 130 orang, 19 orang belum terindentifikasi dan ada di RSSA Kota Malang. Untuk yang di Kepanjen, ada korban yang belum teridentifikasi yang ada di RSUD Kanjuruhan sebanyak 13 orang, di Wafa Husada ada tiga orang masih dirawat, dan ada yang susulan setelah pulang karena merasa sakit, terus balik ke rumah sakit lagi,” pungkas Muhadjir. (aqu/hms)

Editor Restu