Harga Batu Bara Acuan (HBA) Turun Tipis, Pengusaha Minta Pemerintah Hapus Indeks NEX dan Newcastle

Sebagai informasi, terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand.

Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

HBA sendiri merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%. (RAF)

Tidak Sesuai

Pusaha tambang dan niaga batu bara belakangan meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk merevisi aturan terkait dengan formulasi indeks pembentuk harga batu bara acuan (HBA) yang dianggap tidak lagi memperlihatkan harga riil di pasar.

HBA yang berlaku saat ini dinilai membuat pelaku usaha mesti membayar kewajiban kepada negara dengan angka yang lebih tinggi dari harga patokan batu bara (HPB) dalam perdagangan komoditas di Indonesia.

“Keberanian menghapus NEX dan Newcastle, jelas akan mendekatkan HPB dari HBA pada pasar riil. Tapi saya yakin tidak mudah bagi pemerintah dengan potensi PNBP yang diterima selama ini. Apalagi target PNBP telah ditentukan dan menjadi target pemerintah,” kata Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo saat dihubungi, Kamis (1/9/2022), dilansir Bisnis.com.