Akan tetapi racun tersebut tidak membahayakan diri Abu Darda’ karena ia selalu mengamalkan dengan membaca dzikir.
Dalam kitab an-Nashaih kisah tersebut dilanjutkan, bahwa pelayan perempuan itu bertanya kepada Abu Darda’ : “Termasuk jenis makhluk apakah engkau ini?” Abu Darda’ menjawab : “Aku seorang manusia sepertimu”.
Pelayan tersebut bertanya kembali : “Bagaimana mungkin engkau seorang manusia biasa sedangkan aku telah meracunimu sebanyak empat puluh kali akan tetapi sedikitpun tidak membahayakan dirimu?” Abu Darda’ menjawab : “Tidakkah engkau tahu bahwasannya orang yang selalu berdzikir kepada Allah SWT. tidak akan ada sesuatu yang akan membahayakannya, ketika engkau meracuniku, aku sedang berdzikir kepada Allah dengan nama Allah yang Agung”.
Pelayan itu bertanya kembali, “Dzikir apakah itu?” Abu Darda’ menjawab, dzikir yang aku baca adalah:
” Bismillahilladzi Laa yadhurru ma’asmihi syaiun fiil ardhi walaa fiissamaa’i wahuwas samiiul ‘aliim “
“(Aku berlindung) dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu di bumi dan di langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Kemudian Abu Darda’ bertanya sebab pelayan perempuannya itu meracuni dirinya? dan Pelayan tersebut menjawab : “ Karena Kebencianku kepadamu.” Abu Darda’’ berkata kepada pelayannya :
“ Mulai saat ini engkau kumerdekakan dan engkau kumaafkan ata semua perbuatan yang telah engkau lakukan itu ”. (*)







