“Tidakkah mencukupi buat mereka bahwa Kami turunkan kepada mereka Al-Qur’an ini.” (QS. Al-Ankabut[29]: 51)
Apakah tidak cukup -saudaraku- sehingga harus kita mengadakan perayaan-perayaan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah bahkan kemudian menyerupai orang-orang yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lagi diantaranya mudharat merayakan tahun baru kita telah berbuat bid’ah dalam agama. Karena perayaan itu termasuk pensyariatan.
Ketika Rasulullah sampai ke Kota Madinah, didapati orang-orang Anshar sedang merayakan 2 perayaan mereka. Kemudian Rasulullah bertanya, “apa ini?”, kata mereka, “Ini adalah hari raya kami ya Rasulullah, kami bermain padanya.”, maka Rasulullah bersabda, “Allah telah menggantikan untuk kalian dengan yang lebih baik dari itu, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.”
Maka siapa yang mengadakan perayaan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya, maka ia telah membuat syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah dan RasulNya.
Diantara mudharat merayakan tahun baru lagi yaitu berbuat maksiat kepada Allah.
Kita dapati mereka merayakan tahun baru bercampur padanya laki-laki dan wanita, mereka tidak peduli dengan batasan-batasan Allah, mereka pun berbuat maksiat kepada Allah.
Diantara mudharat merayakan tahun baru lagi yaitu, menghamburkan harta sia-sia.
Membeli petasan untuk kemudian dibunyikan sehingga mengganggu orang yang sedang tidur. Dia telah mendapatkan 2 dosa.
Dosa yang pertama menghambur-hamburkan harta percuma. Bukankah Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mubazir, orang yang berbuat boros terhadap hartanya, itu termasuk teman-temannya setan,” kata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dosa kedua ia mengganggu orang, mengganggu orang yang sedang istirahat dengan suara-suara yang membuat pekak telinga. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah perbuatan dosa.
Oleh karena itu hendaklah kita isi malam tahun baru dengan muhassabah diri, menghidupkan ibadah, akrena disebutkan barangsiapa yang menghidupakan malam disaat orang-orang lupa, maka Allah akan menghidupkan hatinya disaat hati-hati manusia mati. (*)
Editor : Hasby







