Semua orang di sini kalau keluar rumah harus memakai masker, bahkan ketika mengendarai mobil.
Dari awal pandemi sudah langsung diterapkan seketat itu.
Cek suhu tubuh dan desinfeksi setiap memasuki pertokoan, restoran, pusat perbelanjaan, ini diterapkan sampai sekarang.
Korut juga melarang warga melakukan pertemuan atau kerumunan, awalnya dibatasi maksimal lima orang, sekarang ada pelonggaran menjadi maksimal 10 orang.
Dengan kemunculan pandemi memang sangat berpengaruh pada aktivitas pihaknya karena pemerintah setempat menerapkan kebijakan state emergency.
“Ini berpengaruh ke banyak hal. Sebelum pandemi, komunitas Islam di Pyongyang yang banyak diikuti staf KBRI ada sekitar 90 orang, masih bisa salat Jumat bersama. Jika lebaran, kami bisa salat Id bersama di Masjid Ar-Rahman Kedutaan Iran,” ujarnya.
Sejak pandemi, masjid itu ditutup bahkan dibatasi.
Awalnya masjid boleh dikunjungi sampai 10 orang, tetapi berangsur ditutup karena staf kedutaan Iran banyak yang pulang.
Masyarakat Muslim di Korut juga jadi berkurang menjadi 28 orang saja, termasuk 12 WNI.
Karena itu, selama Ramadan kemarin KBRI jadi menggelar salat tarawih berjemaah khusus untuk WNI.
Selain itu, staf diplomatik asing juga tetap terbatas pergerakannya.
Ada pos pemeriksaan prokes di setiap gerbang kompleks diplomatik di sini.
Jadi setiap orang yang mau keluar dan masuk area ini harus melalui sejumlah pemeriksaan seperti cek suhu, menggunakan masker, dan lain-lain.
Sejauh ini, KBRI masih berjalan sebagaimana mestinya walau memang jumlah staf kami berkurang.
“Sekarang tinggal delapan. Sebelumnya ada 15 orang staf KBRI. Tapi ini bukan pengurangan. Jadi memang tujuh orang staf KBRI yang pulang itu beberapa kembali ke Jakarta karena ada tugas di sana. Namun, karena pandemi, mereka tidak dapat balik ke sini sebab perbatasan ditutup semua,” katanya.
Beberapa staf yang pulang juga karena sudah selesai tugasnya, tetapi para pengganti mereka tidak bisa datang ke Korut karena masih lockdown.
Demikian juga karena ditutupnya akses barang, makanya ada kelangkaan dan kesulitan kebutuhan-kebutuhan pokok.
Para duta besar dari beberapa kedutaan lainnya seperti Jerman, Inggris, Swedia, Polandia, Ceko, dan negara Uni Eropa.
Kantor kedubes mereka juga tutup untuk sementara. (brs/berbagai sumber)
Editor: Yayu Fathilal







