Total kematian telah melampaui 200.000 dan kasusnya mendekati 19 juta yang sejak Februari 2021 saja kasusnya hampir 8 juta karena varian virus baru yang ganas kian diperparah dengan adanya acara demonstrasi politik dan festival keagamaan.
Pakar medis mengatakan bilangan di lapangan mungkin lima hingga 10 kali lebih tinggi dari hitungan resmi.
Negara lain telah memberlakukan pembatasan perjalanan serupa dengan India, termasuk Inggris, Jerman, Italia, dan Singapura, sementara Kanada, Hong Kong, dan Selandia Baru telah menangguhkan semua perjalanan komersial dengan India.
Pada Rabu lalu, Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat mengirim pasokan senilai lebih dari $ 100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun ke India untuk membantunya melawan lonjakan COVID-19.
Persediaan itu termasuk tabung oksigen, masker N95 dan tes diagnostik cepat.
Amerika Serikat juga telah mengalihkan pesanan pasokan manufaktur AstraZeneca ke India, yang akan memungkinkannya membuat lebih dari 20 juta dosis vaksin COVID-19, menurut Gedung Putih.
Perjalanan Udara
Hampir semua wisatawan ke Amerika Serikat melalui udara harus menunjukkan bukti tes virus corona negatif atau pemulihan dari COVID-19.
Dalam beberapa pekan terakhir, Gedung Putih dan agensi AS mulai mengadakan pembicaraan tentang bagaimana akhirnya melepaskan kebijakan ketika kampanye vaksinasi diluncurkan dan kasus menurun di beberapa negara.
Perjalanan udara internasional AS tetap turun 60 persen dari tingkat pra-COVID-19, sementara perjalanan udara domestik AS turun 40 persen, menurut kelompok perdagangan industri Airlines for America.
Maskapai penerbangan dan grup perjalanan AS telah mendesak Gedung Putih untuk menetapkan tolok ukur untuk pelonggaran pembatasan pada akhirnya. (ant)
Editor: Yayu Fathilal







