WARTABANJAR.COM – Risiko penyebaran Virus Nipah dari kasus yang dilaporkan di West Bengal, India, masih tergolong rendah pada tingkat nasional, regional Asia Tenggara, hingga global.
Berdasarkan hasil risk assessment terbaru, Organisasi Kesehatan Dunia WHO juga tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan internasional terhadap India.
Penilaian tersebut disampaikan NPO Epidemiologist WHO Health Emergency (WHE) Programme WHO Indonesia, dr Endang Widuri Wulandari, berdasarkan analisis epidemiologis terkini yang dilakukan WHO.
Menurutnya, peningkatan risiko hanya teridentifikasi pada tingkat subnasional, khususnya di wilayah West Bengal.
“Pada tingkat subnasional, khususnya di West Bengal, risikonya dinilai moderate atau sedang karena masih ditemukannya reservoir alami Virus Nipah pada populasi kelelawar di wilayah perbatasan Bangladesh dan India,” ujarnya dalam webinar Situasi Global Pengendalian Virus Nipah, di Jakarta, dikutip Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, selama reservoir alami virus masih ada, potensi terjadinya spillover zoonosis secara sporadis dari hewan ke manusia tetap memungkinkan. Meski demikian, WHO menilai risiko penyebaran pada tingkat nasional India, kawasan Asia Tenggara, hingga global tetap rendah. “Penilaian ini didasarkan pada fakta bahwa kasus hanya terjadi di satu distrik, yakni North 24 Parganas, serta tidak ditemukan riwayat perjalanan pasien selama periode bergejala,” ungkapnya.
WHO mencatat seluruh kasus telah diisolasi dengan baik. Pelacakan kontak telah dilakukan secara menyeluruh, dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan seluruh kontak erat dinyatakan negatif. Selain itu, penguatan surveilans serta langkah pencegahan dan pengendalian infeksi telah diterapkan secara optimal. “Risiko penyebaran ke wilayah lain di India dinilai rendah karena tidak ada mobilisasi kasus saat bergejala,” jelas dr. Endang.







