WARTABANJAR.COM, BANJARBARU- Pentas seni Mamanda kembali meramaikan panggung budaya Banjarbaru.
Teater Banua Idaman membawakan lakon berjudul “Manimang Bulan di Bukit Karamunting” di Panggung Taman Van Der Pijl, Banjarbaru, Sabtu (7/2/2026) malam, dengan mengusung pesan sosial yang dibalut kisah fiksi.
Penulis naskah Mamanda, Arif Fadillah, menjelaskan judul Manimang Bulan dimaknai sebagai simbol harapan.
Kisahnya berlatar kerajaan fiktif di Bukit Karamunting, yang secara historis memang dikenal sebagai salah satu wilayah lama di Banjarbaru.
“Manimang Bulan itu kami maknai sebagai sebuah harapan. Ceritanya fiksi, tapi pesan-pesan sosial, pendidikan, dan nilai kehidupan tetap kami sampaikan secara tersirat,” ujar Arif seusai pementasan.
Ia menyebut, Mamanda sejak awal memang tidak sekadar hiburan, tetapi menjadi media penyampai pesan kepada masyarakat.
Bahkan dalam lakon tersebut, turut disisipkan visi dan misi pembangunan Kota Banjarbaru.
“Mamanda itu tujuannya menyampaikan sesuatu secara halus. Penonton tertawa, tapi juga dapat pesannya,” ungkapnya.
Arif menuturkan, Mamanda memang memiliki karakter khas sebagai media penyampai pesan tanpa harus disampaikan secara gamblang.
”Melalui dialog, adegan, dan humor, penonton diajak menangkap makna yang lebih dalam,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan Mamanda merupakan teater tradisional asli Kalimantan Selatan.
Pemilihan Teater Banua Idaman sebagai pengisi panggung bukan tanpa alasan, karena sanggar tersebut dinilai memiliki sejarah panjang di Banjarbaru.
