WARTABANJAR.COM, UTRECHT – Kota Utrecht, Belanda, diguncang aksi protes besar-besaran setelah seorang petugas polisi diduga melakukan kekerasan terhadap dua wanita Muslim. Demonstrasi ini digelar pada Kamis (29/1/2026) sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang disebut para pengunjuk rasa sebagai “kekerasan rasis yang sistematis.”
Aksi unjuk rasa berlangsung di Lapangan Vredenburg, Utrecht. Ribuan demonstran mengecam tindakan aparat dan menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari pola kekerasan rasis yang berulang.
Dikutip dari @anadoluajansi, para peserta aksi menuntut pihak kepolisian Belanda segera meminta maaf kepada korban dan masyarakat Muslim, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Tak hanya itu, demonstran juga mendesak agar petugas yang terlibat segera ditangguhkan dari tugasnya.
Dalam aksi tersebut, massa meneriakkan berbagai slogan keras seperti:
“Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian!”
“Tidak untuk polisi rasis!”
“Polisi fasis, hentikan teror!”
Setelah melakukan orasi di pusat kota, massa kemudian bergerak menuju kantor polisi Paardenveld di Utrecht sebagai bentuk tekanan publik.
Insiden Polisi Pukul dan Tendang Dua Wanita Muslim
Insiden kekerasan tersebut terjadi pada awal pekan ini di depan pusat perbelanjaan Hoog Catharijne, Utrecht. Dalam laporan yang beredar, petugas polisi disebut memukul salah satu wanita dengan pentungan, sementara korban lainnya ditendang di bagian perut.
Peristiwa ini semakin memicu kemarahan publik setelah rekaman video kejadian tersebut viral di media sosial, memperlihatkan aksi agresif aparat terhadap kedua wanita.

