WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Tiga dekade telah berlalu sejak kematian tragis Marsinah, buruh perempuan asal Jawa Timur yang menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai ikon perlawanan terhadap ketidakadilan di masa Orde Baru.
Kasus yang mengguncang Indonesia dan menarik perhatian dunia ini kembali dikenang setiap Hari Buruh 2025 yang diperingati pada 1 Mei, sebagai pengingat perjuangan buruh belum rampung.
Semangat Marsinah hidup dalam setiap tuntutan akan keadilan, perlindungan, dan kesejahteraan bagi pekerja hingga hari ini.
Pada Mei 1993, nama Marsinah menjadi sorotan publik, baik nasional maupun internasional. Buruh perempuan dari Nganjuk, Jawa Timur, ini ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan setelah menghilang selama tiga hari.
Ia menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekerasan yang menimpa kaum pekerja di Indonesia.
Marsinah lahir pada 10 April 1969. Kehilangan ibunya sejak usia tiga tahun dan tumbuh dalam kondisi ekonomi sulit, dia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA.
Ia memutuskan untuk merantau dan bekerja di berbagai pabrik, terakhir di PT Catur Putra Surya (CPS), Sidoarjo. Marsinah dikenal vokal memperjuangkan hak buruh.
Ia aktif dalam serikat pekerja dan ikut serta dalam aksi mogok menuntut kenaikan upah dari Rp 1,700 menjadi Rp 2,250 per hari, sesuai anjuran gubernur Jawa Timur kala itu.

