WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Musim kemarau panjang yang mendera Kabupaten Tanah Laut memberikan pukulan telak bagi sektor perikanan air tawar, memaksa ribuan pembudidaya gigit jari akibat surutnya debit air sungai hingga kematian massal komoditas lokal.

​Fenomena iklim ekstrem ini tidak hanya mengeringkan kolam-kolam warga, tetapi juga memicu defisit pasokan yang meroketkan harga ikan air tawar di pasaran. 

Di tengah hantaman krisis perikanan darat , perikanan laut justru menjadi katup penyelamat ketahanan pangan daerah melalui pasokan ikan segar bernilai miliaran rupiah.

Baca juga: 3.646 Hektare Sawah Puso akibat Kekeringan, Petani Tanah Laut Beralih Jadi Penambang Emas

Baca juga: Seratus Hektare Lebih Kebun Karet di Tabalong Terbakar, DKPPP Bentuk Kelompok Tani Peduli Api

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Tanah Laut, M. Kusri membeberkan bahwa data statistik mutakhir kementerian dan daerah menunjukkan penurunan produksi perairan umum darat yang sangat mengkhawatirkan selama puncak kemarau.

​"Total produksi perikanan darat atau Perairan Umum Darat pada bulan Juni atau awal kemarau sempat mencapai 185.522 kilogram. Namun, pada puncak kemarau di bulan September, volume tangkapan menyusut drastis menjadi hanya 146.518,4 kilogram," ungkap M. Kusri kepada WartaBanjar.com, Kamis (22/10/2026).

Angka tersebut merepresentasikan defisit pasokan ikan air tawar lokal hingga 39.003,6 kilogram atau anjlok sekitar 21 persen dalam kurun waktu tiga bulan. 

Kerusakan ekologis paling ekstrem dialami oleh komoditas sepat rawa dari 28.923,2 kilogram menjadi 3.368,9 kilogram atau anjlok 25.554,3 kilogram akibat mengeringnya rawa-rawa, disusul penurunan tajam pada populasi ikan gabus.

​Menghadapi ancaman krisis lanjutan berupa masa pancaroba dan fenomena upwelling yang berpotensi membalikkan massa air serta meracuni ikan budidaya secara massal, pihak DKPP bergerak cepat menyebarkan instruksi mitigasi hulu ke hilir.

"Petugas lapangan secara intensif mengingatkan para pembudidaya, terutama di sektor perairan umum dan keramba jaring apung, untuk mewaspadai ancaman fenomena upwelling atau umbalan saat hujan mulai turun yang dapat memicu penurunan kadar oksigen mendadak," tegas M. Kusri.