Plt Ketua BEM ULM Gaungkan Bencana Asap Karhutla Kalsel di Tugu Proklamasi Jakarta
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Berbagai elemen masyarakat termasuk mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keresahan masyarakat akibat kabut asap akibat maraknya Karhutla (kebakaran lahan dan hutan) di Kalimantan dan Sumatera.
Tergabung di dalam aliansi mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia, Pelaksana Tugas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (Plt Ketua BEM ULM), Satria Bima Agata mengaungkan suara warga Kalsel yang menjadi korban kabut asap Karhutla.
Aksi Satria Bima Agata dan perwakilan BEM berbagai kampus ini berlangsung di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026),
Dalam aksi ini, ia juga membacakan maklumat nasional yang berisi kritik terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Kepada pers, Satria menegaskan kabut asap pekat yang menyelimuti Kalimantan termasuk Kalsel sudah terjadi selama empat bulan dan hingga kini belum reda.
"Kami sesak napas selama empat bulan karena asap Karhutla," katanya.
Diungkapkan Satria, kabut asap itu tidak hanya mengganggu aktivitas keseharian tetapi juga mengancam kondisi kesehatan dan ekonomi, juga pendidikan.
Jumlah kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) terus meningkat di berbagai daerah di Kalsel.
"Sampai akhirnya ada guru yang meninggal dan balita yang meninggal di Kalimantan. Sangat banyak yang terkena ISPA," ucap Satria.
Mengenai penanganan Karhuta, ia menilai, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat belum mampu menangani persoalan karhutla secara optimal sehingga masyarakat masih kesulitan mendapatkan udara bersih.
Baca Juga: Polda Kalsel Uji Padamkan Api Lahan Gambut Banjar Gunakan Surfaktan Pyrox
Baca Juga: Kasus ISPA di Kalsel Naik Jadi 11 Ribu per Minggu, Dinkes Siapkan 113 Rumah Oksigen
Sebelumnya, Kerapatan Borneo meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersinergi kuat untuk mempercepat penanganan Karhutla yang memicu terjadinya kabut asap pekat.
Menurut Kerapatan Borneo, keterlambatan penanganan dan ego sektoral berisiko membuat masyarakat menanggung dampak asap hingga kehilangan mata pencaharian.
Kerapatan Borneo adalah perkumpulan para raja dan sultan di seluruh Kalimantan.