WARTABANJAR.COM, PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin masif di Kalimantan. 

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni pun kembali mengunjungi sejumlah wilayah terdampak seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Namun kedatangannya kali ini di Kalteng tidak disambut positif beberapa kalangan.

Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Junaidi, meminta kedatangan pejabat pusat tidak hanya berkunjungan, tetapi juga berbuat nyata menangani karhutla.

"Pak Presiden sudah juga berkunjung, Pak Wakil Presiden juga, Pak Menhut berkali-kali juga. Yang kita butuhkan bukan hanya kunjungan, aksi nyata,” kata Junaidi, Selasa (13/10/2026).

Baca juga: KPK OTT Pejabat BNPB di Tengah Bencana Karhutla

Baca juga: Gubernur Kalteng Disentil Anggota DPR Gegara: "Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kawin Lagi"

Ia meminta pemerintah pusat menetapkan karhutla sebagai bencana nasional karena tiga dari lima indikatornya terpenuhi.

Sekelompok mahasiswa dan pemuda Kalteng sempat mendatangi Hotel Swissbell, Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya, tempat Menhut beristirahat.

Perwakilan massa, Affan, mengungkapkan pihaknya ingin menyampaikan kekecewaan terhadap penanganan karhutla di Kalteng.

Mereka menilai kunjungan petinggi pemerintahan negeri ini ke Kalteng tak diikuti tindakan konkret.

Massa pun meminta Juli mengundurkan diri karena tidak mampu menangani karhutla.

Menanggapi desakan tersebut, Raja Juli menegaskan akan terus bekerja dan menjalankan amanah yang diberikan kepadanya semaksimal mungkin.

"Saya saat ini bekerja. saya bukan orang yang suka pamer, tapi saya insya Allah akan bekerja terus dan akan menjalankan amanah dengan semaksimal mungkin,” ujarnya saat meninjau lokasi karhutla di Taman Nasional Sebangau, Selasa.

Ia juga menyatakan akan menjalankan amanah tersebut sesuai dengan keputusan Presiden Prabowo Subianto.

"Kita lihat tidak mudah di lapangan. Tidak semudah kita membuat caption di media sosial," ujar Raja Juli. (Wartabanjar.com)