"Ban belakang keras ini yang sempat membuat kami sedikit ragu karena casing-nya sama seperti di Austria. Namun, saya bekerja dengan sangat baik di sini dan kami berhasil menjalani akhir pekan yang bagus," lanjut Marc.

Dalam sesi tersebut, Dani Pedrosa yang bertugas sebagai komentator, lebih dulu memberikan pujian kepada Marc. 

Pedrosa menyoroti kecepatan balapan di Motegi yang jauh lebih cepat dibanding tahun sebelumnya, sekaligus bagaimana Marc mampu mengelola ban, bahan bakar, serta tekanan dari Martin.

Marc kemudian menjelaskan bahwa kunci utamanya adalah mengambil posisi terdepan sesegera mungkin. 

"Seperti yang Anda tahu, sulit untuk berada di belakang di Motegi. Ketika mendapatkan slipstream saat pengereman, jauh lebih sulit untuk mendapatkan waktu. Target saya adalah memimpin balapan sesegera mungkin."

Marc mengaku tidak bisa langsung mengambil alih posisi terdepan pada lap pertama, karena para rival sudah mempelajari strateginya dari Sprint Race.

"Saya tidak bisa melakukannya pada lap pertama karena kemarin saya sudah menunjukkan cara saya, dan hari ini mereka sudah mempelajarinya. Saya harus mendorong dengan keras, mengambil banyak risiko pada lap-lap tersebut untuk menyalipnya," katanya.

Setelah berhasil melewati Martin, Marc mengubah pendekatannya. Ia tidak lagi memaksakan diri untuk terus membuka jarak sebesar mungkin. Ia fokus mengontrol ritme balapan sesuai situasi.

"Setelah saya menyalipnya, saya ingin mengontrol ritme balapan sesuai keinginan saya. Tentu saja, ketika dia mendekat hingga 0,7 atau 0,6 detik, saya mendorong sedikit lebih keras," tutur Marc.

Marc menyebut pengelolaan jarak tersebut harus dilakukan dengan tetap memperhitungkan risiko kecelakaan. Ia tidak ingin kehilangan kemenangan hanya karena terlalu memaksakan diri. (Wartabanjar.com)