Innalillahi, Jejak Langkah dan Profil Guruh Soekarnoputra: Menjaga Indonesia Lewat Seni
Pada 1989, ia juga mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP yang kemudian menjadi salah satu wadah produksi kegiatan keseniannya.
Karena kiprahnya yang panjang itu, nama Guruh tidak hanya dikenal sebagai putra Bung Karno. Ia membangun reputasinya sendiri di dunia seni Indonesia.
Pendidikan dan perjalanan intelektual
Guruh menempuh pendidikan dasar hingga tingkat atas di Perguruan Cikini, Jakarta.
Ketika masih bersekolah, prestasinya juga menonjol. Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat pada 1965, ia disebut memperoleh predikat Bintang Pelajar.
Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut hingga ke Belanda. Guruh sempat menempuh studi Arkeologi di Universiteit van Amsterdam.
Pilihan tersebut menunjukkan ketertarikannya terhadap sejarah dan kebudayaan, dua hal yang kemudian juga mewarnai perjalanan hidupnya.
Nama besar keluarga Soekarno akhirnya membawa Guruh ke dunia politik.
Ia aktif di lingkungan Partai Demokrasi Indonesia dan kemudian menjalani perjalanan panjang sebagai anggota DPR RI.
Di dunia politik, Guruh tetap membawa identitasnya sebagai seniman dan tokoh yang dekat dengan gagasan kebudayaan.
Kiprahnya di parlemen berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, kehidupannya kemudian berada di dua dunia sekaligus: seni dan politik.
Di PDI Perjuangan, Guruh juga dikenal sebagai salah satu figur senior keluarga Soekarno.
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengenangnya sebagai seniman besar, sosok marhaenis dan pejuang partai.
Guruh memang lahir dari keluarga yang namanya tercatat dalam sejarah bangsa.
Ia adalah adik Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri dan Sukmawati Soekarnoputri.
Namun, warisan Guruh bukan hanya nama besar keluarganya.
Ia meninggalkan karya.
Puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk menciptakan musik, tari dan pertunjukan yang berusaha menempatkan kebudayaan Indonesia di panggung yang lebih luas.
Jika Bung Karno dikenal melalui pidato, politik dan perjuangan kemerdekaan, Guruh menemukan medan perjuangannya sendiri melalui kebudayaan.
Dari sana, ia mencoba menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya sebuah negara dengan sejarah panjang, tetapi juga bangsa dengan kekayaan seni dan budaya yang layak dirayakan.
Kini panggung itu telah ditinggalkannya.