WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Di balik laporan dugaan arisan bodong yang dilayangkan ke Satreskrim Polres Banjar, influencer Via Sitorus bersama para pelapor mengungkap pengalaman mereka selama mengikuti arisan tersebut.

Salah satunya terkait cara mereka pertama kali mengenal penyelenggara arisan berinisial F, warga Martapura, hingga akhirnya memutuskan bergabung sebagai peserta arisan.

Via mengungkap cara penyelenggara arisan itu, diduga lebih dulu membangun kedekatan dengan calon peserta, sebelum menawarkan arisan.

Sasaran yang didekati merupakan figur yang dikenal di media sosial maupun pemilik usaha, yang memiliki banyak relasi.

”Awalnya nawarin, pura-pura beli produk kita, kadang nawar produk kita. Jadi dia pintar menggaet korban ini nih dengan cara diajak beli produk dia. Dia kan jualan juga tuh jastiper,” ujarnya, Rabu (29/07/2026).

Setelah bergabung, para peserta dijanjikan pencairan arisan sehari setelah jadwal yang telah ditentukan atau H+1.

Namun, janji tersebut disebut tidak berjalan sesuai harapan.

”Awalnya dijanjikan H+1. Lama-kelamaan mulai molor,” katanya.

Baca Juga: Datangi Polres Banjar, Via Sitorus Bersama Delapan Rekannya Laporkan Dugaan Arisan Bodong

Baca Juga: Dana Transfer Pusat Turun 25 Persen, Pemkab Banjar Genjot PAD

Via mengaku mulai mempertanyakan mekanisme penentuan giliran penerima arisan, yang menggunakan aplikasi spinner.

Selama mengikuti arisan, para peserta disebut tidak pernah menyaksikan secara langsung proses pengocokan tersebut.

”Kami tahunya cuma dari screen record hasil spinner yang dikirim. Proses pengocokannya sendiri tidak pernah kami lihat langsung,” ungkapnya.

Meski mulai muncul keraguan, para peserta mengaku tetap melanjutkan setoran.

Mereka khawatir uang yang telah disetorkan tidak bisa kembali, apabila memutuskan berhenti di tengah jalan.

”Saya sebenarnya sudah mau keluar. Tapi kalau keluar, uang yang sudah masuk katanya hangus. Akhirnya tetap lanjut,” tuturnya.

Via mengatakan persoalan tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis para peserta.

Bahkan, ada korban yang nyaris mengalami stres. Beban pikiran itu juga dirasakan peserta yang telah berkeluarga.