Soal biaya, harga unit rumahnya sendiri sekitar 15.800 dollar AS (kurang lebih Rp284 juta).
Namun setelah ditambah ongkos kirim, tarif impor, pajak, dan biaya-biaya lain, total pengeluaran mereka membengkak jadi 28.689 dollar AS (sekitar Rp516 juta).
Dibanding rumah konvensional, rumah prefab unggul dari segi kecepatan pembangunan karena sebagian besar komponennya sudah diproduksi di pabrik.
Produsen tinggal mengirim komponen ke lokasi untuk dirakit jadi rumah utuh, sehingga waktu pembangunan jauh lebih singkat.
Produsen di China menawarkan berbagai model, mulai dari tiny house, rumah kontainer lipat, kabin futuristis berbentuk kapsul luar angkasa, hingga vila modular.
Mayoritas model ini diklaim cukup kokoh untuk digunakan sebagai hunian hingga 50 tahun.
Minat yang meningkat ini juga terlihat dari tren pencarian di internet.
Data dari perusahaan intelijen pasar ShelfTrend menunjukkan kata kunci “Tiny House” mencatat lebih dari 450.000 pencarian per bulan di AS, “modular homes” lebih dari 201.000 pencarian, dan “prefab homes” melampaui 165.000 pencarian setiap bulannya.
Tren ini turut membuka peluang pasar global bagi produsen China.
Serena He, pendiri Luban Cabin (perusahaan rumah prefab berbasis di Linyi, Provinsi Shandong), mengatakan permintaan terhadap rumah modular buatannya terus meningkat, terutama dari pasar yang butuh akomodasi fleksibel dan hemat biaya.
Produk-produk Luban Cabin banyak dipakai untuk hunian glamping di Australia dan Selandia Baru, wisata gurun di Timur Tengah, proyek resor di Asia Tenggara, hingga homestay di beberapa negara Eropa.







