WARTABANJAR.COM, BANJARBARU- Kepadatan lalu lintas di kawasan Simpang Empat Banjarbaru dinilai bukan sekadar persoalan kemacetan biasa, melainkan mencerminkan masalah struktural dalam tata kota.
Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pengamat tata kota, Dr. Eng. Akbar Rahman, menyebut kawasan tersebut menjadi titik simpul pertemuan berbagai arus kendaraan, baik dari dalam maupun luar kota.
“Simpang Empat Banjarbaru berfungsi sebagai titik pertemuan arus regional dari Pelaihari, Tanah Bumbu, dan Hulu Sungai, serta arus dalam kota,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya, kondisi itu diperparah dengan meningkatnya aktivitas komersial dan ruang publik di sekitar bundaran yang terkonsentrasi di satu kawasan.
“Terjadi ketidakseimbangan, pusat aktivitas menumpuk di satu titik, sementara kapasitas dan hirarki jaringan jalan tidak sebanding,” jelasnya.
Akibatnya, seluruh pergerakan kendaraan seolah dipaksa melewati satu simpul yang sama.
“Ini menciptakan fenomena satu titik tumpuan yang sangat rentan terhadap lonjakan pada jam sibuk,” ucapnya.
Ia menilai, secara fungsional kapasitas jalan di kawasan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan kota saat ini.







