“Lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup, layaknya kampus,” katanya.
Habib Idrus menyebut tantangan terbesar warga binaan adalah masa depan setelah bebas. Tanpa bekal pendidikan dan keterampilan, risiko untuk kembali melakukan pelanggaran hukum atau residivisme dinilai masih tinggi.
”Kehadiran program sarjana di dalam lapas menjadi salah satu solusi strategis untuk memutus mata rantai tersebut,” harapnya.
Ia pun berharap warga binaan yang mengikuti pendidikan tinggi dapat memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal.
“Jaket almamater yang dikenakan adalah simbol tanggung jawab baru. Belajarlah dengan tekun, perkaya cakrawala berpikir dan buktikan kepada masyarakat bahwa ketika bebas nanti, kalian tidak hanya membawa surat bebas, tetapi juga gelar sarjana dan pemikiran yang lebih dewasa untuk membangun daerah,” pesannya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu







