Fenomena serupa pernah terjadi Kota Surabaya, Jawa Timur, Oktober 2025 lalu.
Dosen Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Dr Harmin Sulistiyaning Titah, menyebut, penurunan kadar oksigen terlarut menjadi penyebab utama fenomena ikan mabuk.
Pencemar organik atau polutan yang mengendap selama musim kemarau dapat memicu masalah ini.
“Ketika musim hujan tiba, polutan terangkat sehingga mengurangi kandungan oksigen dalam air. Hal tersebut mengakibatkan ikan-ikan kekurangan oksigen dan pada akhirnya naik ke permukaan untuk mencari oksigen,” paparnya.
Dilansir dari laman resmi Pemkot Surabaya, Kepala DLH Kota Surabaya, Dedik Irianto, mengatakan bahwa fenomena ikan tampak ‘mabuk’ atau stres kerap muncul saat peralihan musim.
Dia menyebut, perubahan kualitas air secara drastis dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Dedik mengungkapkan, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar DO di lokasi hanya 1,5, jauh di bawah standar ideal sebesar 3.
Agar fenomena ikan teler tak lagi terjadi, ia mengimbau warga sekitar agar jangan lagi membuang sampah, khususnya sampah rumah tangga dan limbah lainnya, ke sungai agar sungai tetap bersih dan aman untuk tempat tinggal hewan-hewan air. (wartabanjar.com/yayu/berbagai sumber)
Editor: Yayu

