Wabup berharap ke depan, seluruh camat dan kepala puskesmas dapat lebih disiplin dan bertanggung jawab, terutama dalam kegiatan strategis yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan masa depan generasi Tabalong.
Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Tabalong, Arianto melaporkan bahwa angka stunting di Tabalong mengalami peningkatan secara signifikan.
“Pada tahun 2024, prevalensi stunting berada di angka 18,1 persen, namun pada 2025 naik menjadi 23,1 persen,”tutur Arianto
Kenaikan ini, lanjutnya, menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terlebih sistem pelaporan kini menggunakan aplikasi konvergensi terbaru dari Bina Bangda Kemendagri yang mengalami beberapa kali perubahan, mulai dari tahapan penginputan data di tingkat kecamatan.
“Aplikasi ini mengalami perubahan berkali-kali. Karena itu, laporan dari tingkat kecamatan menjadi sangat krusial dan harus benar-benar dipahami,” jelasnya.
Pelaporan Stunting Masuk Aplikasi Nasional
Bimtek ini diikuti oleh seluruh camat se-Tabalong dan kepala puskesmas, dengan fokus utama pada teknis pengisian dan pelaporan data stunting melalui aplikasi baru.
“Tujuan utama bimtek ini adalah memastikan data anak stunting yang dilaporkan ke pusat benar-benar akurat dan valid, sehingga intervensi yang dilakukan pemerintah bisa tepat sasaran,” pungkas Arianto.(wartabanjar.com/Suhardi).
Editor Restu







