WARTABANJAR.COM, MADHYA PRADESH — Aksi nekat mengguncang Kota Indore, India. Sebanyak 24 warga transgender dikabarkan nyaris tewas setelah menenggak cairan pembersih lantai secara massal pada Rabu (15/10/2025).

Menurut laporan kepolisian, tindakan ekstrem ini merupakan bentuk protes terhadap lambannya penanganan kasus pemerkosaan dan pemerasan yang dialami seorang transgender tiga bulan lalu. Para korban aksi protes ini mengaku frustrasi karena laporan mereka diabaikan oleh aparat.

“Mereka sudah berulang kali menuntut keadilan, tapi tidak ada perkembangan berarti,” ujar seorang petugas kepolisian Indore, dikutip dari Times of India.

Seluruh Korban Selamat Usai Dilarikan ke Rumah Sakit

Kementerian Kesehatan India memastikan bahwa ke-24 orang transgender kini dalam kondisi stabil setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.

BACA JUGA: Baterai Meledak, Kabin Air China Terbakar, Pesawat Terpaksa Mendarat Darurat di Shanghai!

“Penanganan cepat tim medis berhasil menyelamatkan seluruh korban dari keracunan berat,” ujar juru bicara kementerian tersebut.

Polisi juga menyatakan telah memulai penyelidikan internal untuk mengevaluasi dugaan kelalaian dalam penanganan laporan pemerkosaan sebelumnya.

Aksi Simpati dan Komentar Pedas di Media Sosial

Kejadian ini langsung viral di media sosial India. Meski banyak yang menyampaikan simpati dan keprihatinan, tak sedikit pula komentar bernada ejekan dan kebencian terhadap komunitas transgender.

Unggahan terkait peristiwa ini dibanjiri komentar kejam seperti:

“Bagus, mengurangi jumlah TG.”
“Kirain kelamin aja yang bermasalah, rupanya otaknya juga.”
“Ayo yang di Indo jangan mau kalah, minum oli bisa nih.”

Komentar bernada kebencian ini menuai kecaman dari aktivis hak asasi manusia, yang menilai peristiwa ini mencerminkan diskriminasi mendalam terhadap kaum transgender di India.

Aktivis sosial menyebut aksi nekat itu mencerminkan putus asa komunitas transgender yang kerap menjadi korban kekerasan namun tidak mendapat keadilan.

“Mereka tidak ingin mati, mereka ingin didengar,” ujar Lata Kumari, pegiat hak transgender India.
“Selama aparat dan masyarakat masih menyepelekan laporan kekerasan terhadap kelompok minoritas, tragedi serupa bisa terulang.”