WARTABANJAR.COM – Fenomena iklim La Nina diprediksi akan mulai berkembang pada akhir tahun 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini untuk masyarakat.
Sebab potensi menyebabkan musim hujan datang lebih cepat dan, yang paling penting, berlangsung lebih lama dari biasanya.
BMKG menyebutkan bahwa sebagian model iklim global mengindikasikan kemungkinan La Nina lemah akan terjadi menjelang akhir 2025.
Baca Juga Kebakaran Subuh Menggegerkan Tanah Laut! 8 Rumah di Pandahan Ludes Dilalap Api, Warga Panik!
Meskipun mayoritas model masih memperkirakan kondisi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) Netral, potensi La Nina lemah tetap menjadi fokus utama.
“BMKG memprediksi La Nina lemah akan mulai muncul pada akhir tahun 2025, berdasarkan sebagian kecil model iklim global,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto.
La Nina, yang ditandai dengan pendinginan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ekuator, secara umum menyebabkan peningkatan curah hujan signifikan di wilayah Indonesia. Kondisi ini secara langsung memicu risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
Ancaman ini semakin diperkuat dengan kondisi di Samudra Hindia. BMKG mencatat bahwa Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada pada fase negatif dan diperkirakan bertahan hingga November 2025.
Kondisi IOD negatif secara simultan turut memperkuat potensi curah hujan yang lebih tinggi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
Akibat kombinasi fenomena ini, BMKG memperkirakan musim hujan 2025/2026 akan datang lebih awal dari rata-rata klimatologisnya. Sekitar 47,6 persen wilayah Indonesia (setara 333 Zona Musim/ZOM) diprediksi mulai mengalami hujan pada periode September hingga November 2025.

