Warga Berbondong-bondong Tukarkan Sampah Jadi Sembako di DLH Kalsel Banjarbaru

Program Pilah Sampah Dapat Sembako sendiri terbukti berkontribusi mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Data DLH mencatat, pasca penutupan TPA Banjarmsin, jumlah sampah yang masuk awalnya mencapai 400 ton per bulan, namun kini berkurang menjadi sekitar 200 ton per bulan.

Lebih jauh, DLH Kalsel juga tengah mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah, termasuk penggunaan alat pemilah (gibrik) di TPS 3R.

Sampah organik dapat dijadikan kompos, sementara sampah anorganik bernilai dapat ditukar ke bank sampah. Untuk residu yang tidak bernilai, akan diolah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara melalui kerja sama dengan PT ITP maupun PT KOR di Tabalong.

“Residu seperti bekas kemasan yang tidak bisa dijual, akan dicacah, dipres, dan diolah sesuai standar perusahaan mitra. Dengan begitu, sampah residu pun tidak hanya ditimbun di tanah, melainkan bisa menjadi sumber energi,” terang Fathimatuzzahra.

Ia menegaskan, program pengelolaan sampah ini sejalan dengan prioritas Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang mendorong pemanfaatan waste to energy. Kalimantan Selatan termasuk salah satu provinsi yang diprioritaskan menuju pemanfaatan RDF dengan kapasitas minimal 1.000 ton per hari.

“Kami berharap masyarakat semakin sadar memilah sampah, sehingga lingkungan lebih bersih, volume sampah berkurang signifikan, dan pada saat yang sama sampah juga bisa mendatangkan nilai ekonomi,” pungkasnya. (Wartabanjar.com/MC Kalsel)

Editor Restu