“InsyaAllah tahun depan kami tidak hanya melibatkan tim dari Pajukungan, tetapi juga mengundang desa lain supaya acaranya lebih semarak,” tambahnya.
Meski ribuan penonton hadir, tahun ini panitia sempat menemui kendala, yaitu kondisi lapangan becek membuat permainan tidak berjalan maksimal.
Selain itu, keterbatasan dana untuk membeli minyak gas sebagai bahan utama bola api juga menjadi tantangan tersendiri.
“Kami minta maaf karena tadi malam sempat mengecewakan penonton. InsyaAllah tahun depan kami lebih siap, bahkan berencana membentuk organisasi agar kegiatan ini lebih terkoordinir. Harapan besar kami, semoga ada sponsor yang mau membantu agar tradisi ini bisa terus hidup dan semakin besar,” pungkasnya.
Kendati ada keterbatasan, antusiasme warga tetap tinggi.
Pertandingan sepak bola api ini selalu menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu setiap peringatan 17 Agustus di Desa Pajukungan. (wartabanjar.com/Adew)
Editor: Yayu







