WARTABANJAR.COM – Di negeri ini, kita terbiasa mendengar doa dan sedekah sebagai urusan ikhlas. Tapi apa jadinya kalau “jaminan surga” mulai dipatok tarif? Apakah ini masih ibadah… atau sudah jadi bisnis dengan label rohani?
Seorang pemimpin perkumpulan keagamaan berinisial YP memicu kemarahan publik setelah diduga menawarkan “tiket masuk surga” seharga Rp 1 juta kepada jemaatnya. Informasi ini keluar dari mulut mantan pengikut, lalu menyebar cepat di lingkungan sekitar.
Selama hampir delapan tahun, YP menggelar kegiatan keagamaan rutin tanpa izin resmi dari pengurus lingkungan. Masalahnya, bukan cuma izinnya yang tak ada, dampaknya pun terasa. Parkir sembarangan bikin jalan sempit, dua anjing peliharaan yang sering menggonggong menambah bising, dan pola hidup jemaat yang berubah jadi bahan gunjingan seperti rumah tangga retak, anak membangkang orangtua, dan nilai hormat yang memudar.
Bahkan, YP pernah melaporkan seorang tokoh agama perempuan setempat dengan tuduhan pencemaran nama baik. Tokoh itu sakit, meninggal, dan laporan tak pernah dicabut. Di mata warga, ini bukan sekadar ajaran yang berbeda, tapi luka sosial yang nyata.
Protes pun meledak. Spanduk penolakan terpasang, bukan hanya menolak YP secara pribadi, tapi menolak gagasan bahwa keselamatan di akhirat bisa dibeli dengan nominal dunia.
Surga bukan properti yang bisa diiklankan, apalagi dijual. Jika ada yang berani menetapkan harga untuk keselamatan jiwa, kita perlu bertanya apakah ini ajaran yang tulus, atau sekadar bisnis dengan kemasan suci? Sebab jika iman berubah jadi komoditas, maka yang dijual bukan hanya keyakinan… tapi akal sehat kita semua.(vri/berbagai sumber)

